Dirut PDAM Tirta Mon Pase Azhari Ali PDF Print E-mail
STUDI KASUS - KEPEMIMPINAN

Penyegaran melalui Regenerasi

Oleh: M.Aswary Pulungan, Lead Fellows

Ombak besar nan dahsyat yang dikenal dengan tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004. Gempa berkekuatan 8.9 skala Richter yang disusul air bah yang terkena dampak dari musibah tsunami. dengan ketinggian lebih 10 meter itu menyapu wilayah pesisir Aceh yang berdekatan dengan episentrum gempa. Air laut masuk dengan cepat dalam volume sangat besar menghancurkan tempat tinggal dan prasarana kehidupan masyarakat.

Lhokseumawe yang merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Utara adalah salah satu wilayah . Wilayah pesisir yang dulu terkenal dengan Kerajaan Samudra Pase itu tinggallah puing-puing reruntuhan bangunan dan mayat yang bergelimpangan dimana-mana. Di titik-titik pengungsian, para korban yang selamat terus meratap. Bayi dan anak­anak kehausan. Setelah gelombang yang tak kenal ampun menyapu seluruh kota itu surut, air sungai dan sumur berbau mayat. Tak ada yang berani memakainya untuk minum. Dimana mereka harus mendapatkan air bersih.

Azhari Ali, pimpinan PDAM Tirta Mon Pase Aceh Utara, bekerja tanpa kenal waktu untuk mengatasi  kebutuhan air pada saat darurat tersebut. Ada ribuan pengungsi yang harus segera mendapat akses air yang terbentang sepanjang pesisir pantai Timur Aceh yang menghadap Selat Malaka. Seperti dituturkan Maipan salah seorang stafnya, mereka bekerja siang malam membantu memobilisasi air bersih ke lokasi-lokasi terpencil meski PDAM sendiri juga kehilangan karyawan yang terkena tsunami. Korban yang selamat terancam wabah penyakit karena kesulitan air bersih dan buruknya sanitasi di lokasi bencana.

Sudah sejak hari-hari pertama terjadinya pengungsian besar-besaran di Aceh, mobil-mobil tangki milik PDAM Tirta Mon Pase Aceh Utara hilir mudik memasok air ke-18 lokasi pengungsian. Seperti tak lelah para pengemudi mobil tangki itu memacu kendaraannya di sela-sela hilir mudiknya truk pengangkut bantuan kemanusiaan diseluruh penjuru wilayah itu, membawa air bersih yang sangat dibutuhkan pengungsi yang didera derita. Didaerah pelayanan PDAM Monpase saja terdapat sekitar 15 titik pengungsian dengan jumlah pengungsi yang bervariasi, mulai dari yang 1.000 hingga 7.000 orang.  Seluruhnya ada 45.000 pengungsi di Kabupaten Aceh Utara. Mereka kebanyakan nelayan dan pekerja tambak di daerah pesisir. Selain kehilangan rumah, tak sedikit di antara mereka yang juga kehilangan satu, dua atau bahkan lebih anggota keluaga. Di Kabupaten Aceh Utara, korban tewas sebanyak 1.500 lebih dan yang hilang lebih dari 300 orang (Majalah Bulanan Air Minum edisi Januari 2005).

Selain tantangan tugas itu Azhari juga dipercaya oleh Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) mengkoordinir dan menyusun strategi penanganan kebutuhan air untuk korban selamat dari musibah tsunami. Azhari diangkat sebagai ketua Tim Rehabilitasi Instalasi Air

NAD yang berkoordinasi dengan seluruh PDAM di seluruh wilayah Aceh.  “Tugas tambahan ini menuntut saya sebagai wakil pemerintah untuk menerima bantuan asing dalam perbaikan instalasi maupun peralatan pengolahan air yang saat itu benar-benar dibutuhkan,” kata Azhari. “Kami harus menunjukkan kesungguhan kerja,  tak kenal lelah dan terus memonitor perkembangan setiap saat dalam menghadapi situasi darurat.” Pembentukan Tim Rehabilitasi yang didasarkan hasil keputusan dewan pimpinan pusat Persatuan Air Minum Seluruh Indonesia No.001/SKEP-DPP/I/2005 tanggal 3 Januari 2005 dan Rapat Kerja Nasional PERPAMSI 2005 tanggal 10 Januari 2005 memiliki misi untuk: (1) Membantu penanggulangan pendistribusian air bersih pada pengungsi korban bencana alam di NAD dan Sumatera Utara, (2) Membantu merekomendasikan bantuan dari PDAM, DPP PERPAMSI, Anggota Luar Biasa dan pihak lain, (3) Membantu penyelesaian masalah teknis yang terjadi akibat bencana tsunami di NAD dan Sumut, (4) Membantu memperbaiki instalasi jaringan air bersih di NAD dan Sumut.

Beragam bantuan Alat Pengelola Air (Water Treatment Process) dengan skala kecil dari para donor untuk wilayah pesisir Aceh yang memanfaatkan air payau di muara sungai segera dipetakan dan dipasang di titik-titik penting untuk mendukung kamp pengungsi maupun masyarakat korban bencana. Azhari menyadari kapasitas organisasinya yang belum pulih sehingga diperlukan motivasi kuat bagi bawahan dan kerjasama yang baik dengan para pihak untuk mendukung misi kemanusiaan yang sedang dijalankan, terlebih dalam tahap tanggap darurat dengan skala besar seperti sekarang ini.

Kerjasama dengan Lembaga Asing


Musibah Tsunami ini menjadi perhatian seluruh dunia, mengingat skala bencana dan besarnya korban yang terkena dampaknya. Dalam waktu sekejap berbagai bantuan datang dari segala penjuru negeri sebagai wujud keprihatinan dan rasa kemanusiaan. Tak kurang dari ribuan sukarelawan, tentara, dan para ahli beragam bidang dari berbagai macam bangsa berangkat untuk ambil bagian dalam operasi besar ini. Negara-negara besar dan kecil mengirim timnya untuk melakukan pertolongan pertama bagi korban yang selamat sambil melakukan pengamatan akan kebutuhan berikutnya yang akan segera menyusul. Para pengungsi di tenda-tenda darurat yang dibangun mulai dibagikan bantuan air dan makanan kemasan sebagai langkah awal tercepat membantu mereka untuk bertahan. Para ahli medis dari berbagai organisasi palang merah pun turut turun tangan menolong korban yang masih bertahan hidup dan terus dicekam oleh situasi kota yang penuh dengan mayat bertebaran. Situasi kekurangan air bersih dan bau busuk bangkai manusia ini juga menjadi ancaman menyebarnya penyakit dilingkungan pengungsi. Jutaan air kemasan yang dikirim ke berbagai penjuru wilayah bencana disadari sebagai tahapan darurat dan harus segera digantikan dengan fasilitas yang tetap dan kontinu.

Di saat menghadapi situasi tanggap darurat kemanusiaan diwilayah Lhokseumawe, Azhari juga berkoordinasi dengan para organisasi donor dan lembaga asing yang ingin segera menyalurkan bantuan peralatan air bersih yang mampu mengatasi kebutuhan air bersifat massal kepada pengungsi.  Pada awalnya para organisasi kemanusiaan Internasional (baca-NGO) dan lembaga nirlaba nasional (baca-LSM) banyak mengambil inisiatif sendiri-sendiri dalam menjalankan strategi mengatasi kelangkaan air bersih pengungsi. Walhasil ada yang berusaha mencari air sumur tanah yang diperoleh ternyata air bercampur dengan gas yang berbahaya atau alat pengolahan air yang didatangkan terlalu canggih untuk kebutuhan pengelolaan dilapangan. Sedang yang lain ada yang menawarkan bantuan pipa dan bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk pengolahan air bersih. Melihat banyaknya kegagalan dilapangan NGO asing itu kembali ke PDAM melihat kemungkinan kerjasama yang lebih kongkret beradasarkan data lapangan dan pengalaman kerja perusahaan daerah ini.

Menyadari situasi pelik kebutuhan air di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan pemahaman akan terbatasnya sumber-sumber air baku untuk diolah menjadi air bersih, Azhari menyusun langkah penanggulangan (action plan) yang disiapkan sebagai bagian presentasinya kepada para donor asing tersebut. Actions Plans for Providing Clean Water For Refugees and Rehabilitating Quake/ Tsunami-Affected Water Treatment Installations and Transmission/ Distribution System adalah proposal kecil yang disusun Azhari untuk meyakinkan mitra luar negeri akan langkah-langkah strategis yang perlu diambil di wilayah NAD. Terlampir adalah disain Drinking/Clansing Water and Sanitation Layout For Refugees Camps yang diajukan Azhari dalam makalah kecil tersebut:

Semua materi yang terkandung di dalam artikel ini dipersiapkan semata-mata hanya untuk tujuan pembelajaran. Kasus ini tidak dimaksudkan atau dirancang sebagai gambaran yang menunjukkan sebuah praktek yang benar atau salah.

Hak Cipta © 2007 dimiliki oleh Yayasan Pembangunan Berkelanjutan

Studi Kasus yang dipaparkan ini hanya berisi sebagian dari isi keseluruhan studi kasus dengan judul tersebut diatas.