Peningkatan PAD Melalui Perbaikan Sistem Peijinan PDF Print E-mail
STUDI KASUS - KEPEMIMPINAN

Oleh:
Cungki Kusdarjito- Janabadra University

Akibat krisis ekonomi yang menghantam Indonesia, pada tahun 1998, pertumbuhan PDRB Kabupaten Sidoarjo terjun bebas -15,9 persen dari tahun sebelumnya. Kontraksi ekonomi tersebut merupakan suatu pukulan yang sangat telak bagi Sidoarjo yang sebelumnya selalu menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, bahkan sampai dua digit.

Pengamat ekonomi Kresnayana Yahya menilai industri menengah di Sidoarjo didominasi oleh industri yang tidak berbasis pada potensi lokal Sidoarjo. "Kebanyakan industri di Sidoarjo merupakan industri pengolahan yang menggunakan bahan baku impor. Itulah kenapa tahun 1998 industri di Sidoarjo terguncang," katanya.

Dalam kondisi krisis seberat ini, tampak jelas siapapun yang menjadi pemimpin di wilayah industri seperti di Kabupaten Sidoarjo tidaklah mudah untuk mengatasi dampak PHK, sementara pendatang dari kabupaten sekitar terus membanjiri Sidoarjo untuk ikut mengais rejeki. Jumlah pedagang kaki lima terus bertambah dan tampak dari banyaknya gerobak dorong dan tenda pedagang disekitar Kantor Bupati.

Dalam kondisi semacam inilah Win Hendrarso mulai memimpin Kabupaten Sidoarjo. Tantangan yang paling utama yang dihadapi Win Hendrarso adalah  bagaimana mengembalikan industri di Sidoarjo kembali berdenyut, karena urat nadi pertumbuhan ekonomi Sidoarjo bertumpu pada ribuan pabrik industri pengolahan. Sistem perijinan dan kualitas aparat Kabupaten harus diperbaiki jika ingin industri menanamkan modalnya di Kabupaten Sidoarjo. Aparat yang bersih dan transparan serta penyelenggaraan good governance merupakan syarat untuk mengundang investor dan mengurangi dampak yang tidak diinginkan yang dapat terjadi jika pemberian ijin suatu industri dilakukan serampangan. Demikian pula peranan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dan potensi tambak di Sidoarjo harus dihidupkan kembali.

Kompleksitas yang dihadapi Win Hendrarso semakin tinggi karena masyarakat Sidoarjo merupakan masyarakat unik dan sub-urban, yang tak lepas dari proses urbanisasi dan globalisasi. Tak dapat dipungkiri bahwa menghadapi arus urbanisasi dan globalisasi memerlukan kesiapan, baik kelembagaan maupun infrastruktur, termasuk perangkat birokrasi. Tingkat pendidikan masyarakat tergolong masih rendah. Kepemimpinan tradisional (pengaruh kiyai) masih kukuh. Keadaan ini seringkali bertabrakan dengan arus urbanisasi dan globalisasi, sehingga segala bentuk proses persiapan kelembagaan dan infrastruktur memerlukan strategi yang matang dan tenaga yang cukup.

Langkah Pasti Menuju Puncak

Adalah di tahun 1999 ketika suasana politik sedikit sensitif, manakala orang ditanya tentang siapa calon bupati Sidoarjo. Masing-masing partai mulai saling melirik kekuatan dan mencari-cari calon yang tepat. Lirikan itu pun akhirnya juga menimpa Win Hendrarso, yang masih menduduki posisi orang kedua, Sekwilda.

Menjadi bupati? Win Hendrarso hanya tersenyum menanggapi tawaran itu. “Ya Pak, kami mendukung apabila Bapak mau mencalonkan menjadi Bupati,” demikian dorongan berbagai elemen, baik di lingkungan birokrat, pemuka masyarakat, kiyai maupun kelompok partai politik. Akhirnya, dia terima tawaran itu, setelah, tentu saja, melakukan pertimbangan mendalam, termasuk persetujuan keluarganya.

Win Hendrarso diusung oleh sebuah partai yang kala itu mendapatkan ‘durian runtuh’. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Akan tetapi, dia gugur dalam konvensi proses pencalonan di tubuh PDIP, dan hanya menjadi calon urutan ketiga sehingga tidak memungkinkan baginya untuk maju menjadi calon bupati melalui kereta PDIP. Tanpa pikir panjang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang saat itu tidak memiliki calon, segera melamarnya untuk dipasangkan dengan Saiful Ilah, sang pengusaha tambak yang kebetulan menjabat sebagai Bendahara PKB. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. “Wis, wis… pas, cocok!” begitu komentar beberapa tokoh kiyai PKB Sidoarjo.

Tidak diragukan, pasangan ini berhasil menang dalam proses pemilihan di DPRD. Gedung DPRD pun menggelegar oleh suara riuh menyambut kemenangan pasangan Win-Saiful. Win Hendrarso, isteri dan anaknya mulai menitikkan air mata terharu atas kemenangan ini. Mereka, kemudian, sambil dikerubuti pendukungnya, dibawa menuju mobil kijang, yang telah dipersiapkan.

Menurut Win Hendrarso, tugas barunya, sebagai bupati merupakan amanah, yang sebaiknya diterima secara tulus dan dikerjakan sebaik-baiknya. Selama menggapai karir, dia selalu menjiwai setiap posisi yang dia duduki. Karena itu, semua jabatan yang pernah dia duduki tidak dianggap sebagai beban. “Saya senang dan menikmati,” demikian komentarnya pada suatu kesempatan.

Jabatan Kedua

Hari Minggu siang di awal September 2005, sebuah mobil Honda Stream berwarna biru metalik, keluaran tahun 2004, meluncur membelah Kota Sidoarjo. Banyak mata memandang mobil Stream itu, karena badan mobil itu tertempel foto besar pasangan Win-Saiful, yang kembali mencalonkan diri sebagai bupati dan wakil bupati untuk kedua kalinya. Pasangan nomor urut satu ini sangat yakin dengan kemenangannya. Di perempatan sebuah traffic-light, seseorang mengacungkan jempol ke arah mobil. Kaca mobil segera diturunkan, seorang perempuan - ternyata isteri Pak Win, Ibu Emy ­menjulurkan telunjuk tangannya, sebagai tanda angka satu, seolah ingin mengatakan nomor satu. Mengawali masa kampanye menjelang pilkada di Sidoarjo, 11 September 2005, program yang ditawarkan Win-Saiful berkisar pada program-program berkelanjutan yang sebelumnya selama lima tahun kepemimpinannya sudah berjalan. Antara lain pengentasan kemiskinan dan pengembangan penguatan ekonomi kerakyatan.

Hasil pemungutan suara 12 September 2005 benar-benar menjadi bukti bahwa pasangan Drs. Win Hendrarso, M.Si., dan H. Saiful Ilah, S.H. masih dipercaya rakyat Sidoarjo. Mereka meraih suara mutlak, hampir 67,86% atau 459.206  suara dan unggul di seluruh kecamatan. “Yang sudah kelihatan hasilnya saja…,” begitulah komentar banyak orang ketika ditanya memilih nomor berapa.

Putra Bupati Yang Dipersiapkan Menjadi Bupati

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, demikian pepatah lama. Win Hendrarso, yang berperawakan sedang, hitam manis, dan berpenampilan rapi, adalah anak keenam dari tiga belas bersaudara, yang lahir di Kota Surabaya pada 12 Juli 1954. Ayahnya adalah seorang pejabat pamong praja, yang pernah menjabat sebagai Residen Bojonegoro (membawahi wilayah Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Lamongan), Bupati Tulung Agung dan Bupati Banyuwangi, yang kemudian mengakhiri jabatannya di BAPPEPROV Jawa Timur, sebagai orang pertama yang menduduki jabatan Sekretaris.

Sejak awal, ayahnya, Pak Winarto, telah memilih Win, di antara saudara-saudaranya, untuk dipersiapkan menjadi seorang pamong praja (birokrat). Karena itu, dia tak punya pilihan lain, sekalipun menyelesaikan pendidikan SMA jurusan IPA, selain mengambil kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM di Kota Jogjakarta pada tahun 1973. Di Kota Jogja ini, yang lebih dikenal dengan kota gudheg, Win muda menjalin pergaulan luas dengan berbagai kalangan, termasuk sejumlah seniman, seperti Sawung Jabo.

Setelah menyelesaikan studinya di Ilmu Pemerintahan, Win Hendrarso mengawali karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Provinsi Jawa Timur. Tahun 1986 dia ditarik ke bagian inspektorat (Itwilprop Jatim) yang bertugas mengawasi kinerja birokrasi di lingkungan Propinsi Jawa Timur. Dia ditugaskan menjadi pejabat sementara Inspektur Wilayah Kota Pasuruan selama lima tahun, tahun 1989-1994, dan ditarik kembali ke tingkat propinsi. Tahun 1997, dia dialihtugaskan ke jajaran pelaksana pemerintahan dan diangkat menjadi Kepala Biro Tata Pemerintahan Umum Setwilda Propinsi Jawa Timur. Dua tahun kemudian, tahun 1999, dia dipindahkan ke Kabupaten Sidoarjo, yang bersebelahan dengan Kota Surabaya, dan menjadi orang kedua, Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda).

Sebagai seorang sekretaris, tidak jarang Win Hendrarso terpaksa menggantikan atau mengisi posisi bupati ketika sang bupati tidak berada di tempat. Kesempatan ini, tentu saja, digunakan sebagai proses belajar untuk mematangkan langkah Win Hendrarso dalam menuju ke jenjang lebih tinggi, menjadi Bupati, orang nomor satu di suatu kabupaten. Win Hendrarso sebenarnya merupakan tipe orang yang tidak mau menonjolkan diri, bahkan pemalu. Dia lebih pantas dianggap sebagai pekerja keras (hard worker). “Memang, benar !” demikian komentar orang-orang dekatnya. Win Hendrarso tidak terlalu lama menempati posisi sekretaris, hanya kurang dari satu setengah tahun. Masa kerja bupati waktu itu habis tahun 1999, dan dia terpaksa harus menggantikan posisi yang lowong tersebut. Pengalaman kerja selama berkutat di inspektorat, dan penguasaan lingkungan birokrasi selama menjabat sebagai sekretaris, menjadikan dia tidak canggung lagi memimpin dan mengendalikan seluruh jajaran struktural birokrasi di Kabupaten Sidoarjo. “Ini, tentu saja, merupakan poin penting!” Yang jelas, komentar ini, yang keluar dari salah satu pejabat di Sidoarjo, tidak basa-basi.

Win Hendrarso, selama menjabat sebagai sekretaris dan mengisi lowongan Bupati, banyak belajar dan memahami kondisi kehidupan Kabupaten Sidoarjo. Tidak jarang, dia, dengan salah seorang sopir kepercayaannya, turun sendiri mengamati lapangan yang menjadi wilayah kerjanya, mengamati desa-desa, kawasan tambak, dan kawasan industri. Tiba-tiba, dia meminta sopirnya berhenti di pinggiran tambak bandeng dan udang. “Ini benar-benar potensi luar biasa! Ini benar-benar wilayah yang sangat potensial untuk digarap secara lebih baik!” selorohnya perlahan kepada sopirnya, yang dijawab sebuah anggukan meng’iya’kan.

Sidoarjo: Wilayah Dinamis yang Penuh Tantangan

Kabupaten Sidoarjo memiliki wilayah seluas 71.424,25 hektar atau sekitar 714,24 km2, yang dihuni oleh lebih dari satu setengah juta jiwa dan merupakan kabupaten terkecil di Jawa Timur. Kabupaten ini terletak di sebelah selatan kota metropolitan Surabaya. Jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000 sebanyak ± 1.548.820 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata ± 2.441 jiwa/km2, dan pertumbuhan penduduk mencapai ± 2,87% per tahun (lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan penduduk di Jawa Timur). Sedangkan jumlah penduduk tahun 2002 berdasarkan proyeksi hasil sensus tahun 2000 adalah sebanyak 1.657.237 jiwa (Data BPS Tahun 2002). Hal ini bukan karena tingginya angka kelahiran, akan tetapi lebih dikarenakan arus urbanisasi sebagai dampak dari pertumbuhan sektor industri dan perumahan di Sidoarjo serta sekaligus sebagai daerah penyangga Kota Surabaya.

Sidoarjo merupakan sentra terbesar industri kecil, menengah dan besar di Jawa Timur dengan 15.000 UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Sepertiga wilayah ini merupakan kawasan pantai dan tambak. Sampai saat ini, hasil produksi utama kawasan pantai dan tambak ini adalah bandeng dan udang non-organik, yang menjanjikan untuk pasar internasional (Jepang, misalnya). Daerah ini memiliki kekuatan ekonomi paduan antara industri, pertanian dan perdagangan yang perkembangannya sangat pesat.

Konsekuensi logis sebagai wilayah penyangga Kota Surabaya, mengakibatkan wilayah Kabupaten Sidoarjo menjadi kawasan tumbuh cepat. Lebih-lebih setelah kota Surabaya mencanangkan diri sebagai kota jasa, sehingga banyak industri yang didirikan di Sidoarjo daripada di Surabaya. Kondisi tersebut menuntut adanya ketersediaan infrastruktur yang memadai dalam menunjang pengembangan wilayah yang berkembang cepat. Kondisi ini dapat mendorong terjadinya perubahan tata guna lahan yang cepat dari lahan pertanian ke non pertanian, sehingga perlu adanya upaya penataan ruang yang lebih dinamis. Di samping itu, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan wilayah, terutama pengembangan infrastruktur, terjadi secara merata dan simultan, sehingga dibutuhkan pembiayaan pembangunan yang relatif besar. Analisa SWOT

Agar berbagai permasalahan yang menjadi persoalan Kabupaten Sidoarjo dapat dipetakan dengan baik, maka disusunlah analisa SWOT untuk memudahkan Win Hendrarso menyusunan strategi dan mengimplementasikan program kerja. Analisa SWOT disusun berdasarkan masukan dari seluruh Dinas, Badan, dan Instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.Adapun hasil analisis SWOT untuk Kabupaten Sidoarjo adalah: Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis SWOT disusunlah berbagai strategi yang akan ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, yaitu................. 

Semua materi yang terkandung di dalam artikel ini dipersiapkan semata-mata hanya untuk tujuan pembelajaran. Kasus ini tidak dimaksudkan atau dirancang sebagai gambaran yang menunjukkan sebuah praktek yang benar atau salah.

Hak Cipta © 2007 dimiliki oleh Yayasan Pembangunan Berkelanjutan
.

Studi Kasus yang dipaparkan ini hanya berisi sebagian dari isi keseluruhan studi kasus dengan judul tersebut diatas.