| PLID dan A LEADER WITH A PROMISING "t " |
|
|
|
|
PLID dan pemimpin yang visioner PLID tidak bisa diharapkan terlalu banyak kalau kita hanya melatih para pengambil keputusan (Bupati, anggota DPRD, aktifis LSM, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin perusahaan) saja. PLID juga harus dibarengi dengan upaya pencerahan masyarakat luas (bukan hanya para decision makers) untuk mampu mengamati karakter para pemimpin mereka. Dengan begitu masyarakat luas yakin bahwa orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupan mereka adalah orang-orang dengan karakter yang bisa diandalkan. Untuk itu sebuah kemampuan sederhana untuk membaca dan mengamati karakter para pengambil keputusan (yang nantinya menjadi target pelatihan program PLID), dan guru yang merupakan ujung tombak pembentukan pemimpin-pemimpin masa depan, adalah sangat bermanfaat. Para pengambil keputusan dan guru adalah dua kelompok masyarakat yang mempunyai pengaruh sangat besar di dalam masyarakat luas. Dinamika karakter mereka menentukan dinamika karakter kelompok yang berada di bawah pengaruh mereka untuk bergerak ke arah yang diharapkan. Seorang pemimpin dan guru sudah semestinya adalah orang-orang yang visioner. Orang-orang yang mempunyai pandangan jauh dan jelas serta jernih. Orang-orang yang mempunyai greget yang tinggi untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Adalah sangat sayang apabila sebuah program pemberdayaan (misalnya seperti PLID ini) tidak dibarengi dengan upaya pembangunan karakter pada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kebingungan dan kekalutan Dua hari yang lalu, sepulang dari menjemput Agi anak saya yang nomer dua, saya terjebak dalam kemacetan lalulintas yang luar biasa memusingkan. Meski saya sudah mencoba mencari jalan untuk kembali ke tempat kerja saya, tetap saja lalulintas macet dan macet total. Tanya sana-sini ternyata ada tawuran pelajar SMA swasta. Wah, kaget juga saya, bisa ya tawuran menjadi sedemikian hebatnya sehingga memacetkan lalulintas. Bahkan keesokankan harinya berbagai komentar dari berbagai kalangan tidak kalah hebohnya muncul di koran lokal mengomentari tawuran tersebut. Justru dari berbagai komentar di koran itu saya jadi ngeh, bahwa tawuran itu lebih banyak disoroti sebagai masalah dari pelajarnya. Murid suka nongkronglah, suka kumpul-kumpullah, belum bisa menahan emosilah, dan berbagai komentar yang secara tidak seimbang menyalahkan pihak murid secara habis-habisan. Pertanyaan saya adalah: ”Darimana para pelajar itu belajar untuk menjadi beringas dan main labrak sana-sini?” Anekdot yang berkembang di masyarakat (terutama di Yogya, kota tempat saya tinggal), ada beberapa sekolahan tertentu yang memang sejak jaman dahulu terkenal dengan muridnya yang suka berkelahi. Saya jadi heran koq bisa begitu ya? Artinya kenapa bisa suatu sekolahan mempunyai label yang berkembang di dalam masyarakat sebagai sekolahan dengan murid yang suka berkelahi? Kalau anekdot ini benar, berarti ada yang khas dan unik dari sekolahan-sekolahan tersebut. Mestinya ada ”sebuah program” di dalam dinding sekolahan yang bisa menghasilkan pemuda dan pemudi dengan daya juang (untuk melabrak sekolah lain) yang demikian hebat dan bisa diturun-temurunkan? Pasti ada sesuatu yang berlangsung konsisten dan kontinyu di antara tembok-tembok ruangan kelas di sekolah-sekolah tersebut. Dan itu sudah berlangsung lama sekali. Pelajar-pelajar SMA adalah merupakan cikal-bakal dari para pemikir di negeri kita ini, dan untuk bisa menjadi pemikir yang yahud, logika berpikir mereka juga harus lurus (kalau mereka berniat menjadi pelaku dan pekerja mestinya mereka ada di SMK, pelajar SMA sudah jelas dirancang untuk kuliah dan jadi pemikir, buktinya mereka sebagian besar harus melakukan penelitian dan membuat tesis). Jadi kalau pelajar SMA sampai tawuran dan melabrak ke sana-sini, berarti penggunaan otak bagian neokorteks (untuk berpikir logika) belum diasah dengan baik oleh para pembimbing mereka (guru dan orang tua). Seandainya saja para pelajar itu sudah mendapatkan teknik yang benar tentang bagaimana menggunakan otak mereka untuk berpikir logis (sehingga nantinya bisa kuliah dengan sukses dan jadi pemikir dan pemimpin yang sukses), pastilah mereka tidak mudah untuk melabrak ke sana-ke sini. Apalagi hanya gara-gara sederhana, misalnya tembok sekolahan mereka dicorat-coret dengan lambang dari kelompok-kelompok dari sekolah lain. Selain penguasaan logika yang belum piawai, tawuran (apalagi yang dilakukan turun-temurun dari sekolah yang sama) nampaknya berkaitan dengan lemahnya kemampuan kepemimpinan baik oleh pelajar itu sendiri maupun pada pihak guru. Sebuah sekolah yang terkenal suka berkelahi, katakan saja SMA ABCD, tentunya muridnya selalu berganti-ganti (setiap tahun ada murid baru dan setiap tahun ada murid yang lulus), yang menjadi pertanyaan adalah: ”Kenapa meski muridnya ganti-ganti tetapi semangat berkelahinya ada terus? Jawaban dari pertanyaan di atas bisa sangat bervariasi, tetapi salah satunya adalah mestinya ada sesuatu yang sama dan ada terus di dalam komponen sekolah tersebut. Sesuatu yang membuat kebingungan dan kekalutan pada anak-anak muda yang sedang berkembang. Sesuatu itu ada pada diri guru. Kenapa? Karena guru adalah salah satu komponen sekolahan yang relatif tidak berubah dari tahun ke tahun. Meski ada guru baru atau guru yang pindah, dinamikanya tentunya tidak sesering murid yang masuk keluar sekolah setiap tahun. Sesuatu itu tersimpan dengan rapi di dalam huruf t dan mungkin beberapa huruf lainnya dari guru-guru di sekolah tersebut. Kebingungan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan? Bagaimana dengan kebingungan dan kekalutan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup? Sekelompok orang berupaya keras untuk menjaga segala sumber daya alam yang ada, tetapi lebih banyak orang yang tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Bagaimana mungkin sudah begitu banyak lembaga yang berkecimpung dengan isu lingkungan dan di back up dengan dana yang besar, tetapi tetap saja masalah lingkungan hidup terus merebak di sana-sini. Kenapa bisa begini? Jawabannya sama dengan cerita guru di sekolah yang muridnya suka berkelahi di atas. Semuanya ter-rekam rapi di dalam huruf t para pelakunya, terutama pada para pemimpin atau leader-nya. Seorang Leader dengan huruf t yang loyo menyebabkan kebingungan dan kekalutan di dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan terutama apabila harus didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan. Absolutely T yang loyo atau A promising t Cara seseorang menuliskan huruf t pada saat dia menulis dengan tulisan tangan merupakan salah satu cerminan apakah orang tersebut mempunyai visi yang jelas dan tinggi serta mempunyai kehendak teguh untuk mencapai visi tersebut. Anda akan merasa yakin bahwa anak anda akan mendapatkan pendidikan yang baik (dan tentu saja tidak suka tawuran), ataupun konsep pembangunan bisa segera menjadi jalan hidup setiap orang Indonesia, kalau guru-guru di sekolah da para pemimpin yang terlibat dalam pengambilan keputusan pembangunan menulis huruf t mereka seperti ini .......
Kalau gurunya tidak mempunyai cita-cita tinggi (huruf t tertulis dengan garis horisontal pendek dan rendah), suka menggunakan kata-kata kasar dan tajam (huruf t dengan coretan horisontal berujung lancip), lebih suka melihat sesuatu dari sudut negatif (huruf t tertulis miring ke kiri), masalah harus diselesaikan dengan hukuman (coretan vertikal huruf t berakhir dengan ujung membulat seperti pemukul kasti), maklum saja kalau murid-muridnya tidak mempunyai cita-cita, mudah marah, dan bahkan suka berkelahi. Kalau gurunya mempunyai konsep diri negatif (harga diri dan kepercayaan diri jelek), bisa dimengerti kalau murid-muridnya gampang tawuran dan melabrak ke sana-sini. Para murid jelas sudah tertular oleh ”virus” konsep diri negatif para gurunya. Hal yang sama berlaku dengan upaya memasyarakatkan konsep kepemimpinan untuk pembangunan terpadu. Apabila pemimpin-pemimpin yang terlibat langsung dalam upaya tersebut, menuliskan huruf t mereka dengan ciri-ciri seperti yang baru saja saya sebutkan, maka sebuah terapi graphology perlu dilakukan untuk memperbaikinya. Dimana kita bisa mengamati mudah tidaknya seseorang untuk menjadi marah ataupun berprasangka buruk ? Anda bisa melihatnya dengan jelas pada cara orang tersebut menuliskan huruf t, i dan d. Apabila seorang pemimpin ataupun guru putera-puteri anda menuliskan kalimat dengan huruf t, i dan d seperti berikut ini : ![]() maka saya anjurkan anda untuk tidak terlalu berharap mempunyai pemimpin ataupun guru yang sabar dan punya kepercayaan diri tinggi. Orang dengan penulisan huruf t, i dan d seperti contoh tersebut cenderung untuk bersikap temperamental dan sensitif dan berpandangan pendek. Jelas orang dengan tulisan seperti ini bukan tipe guru yang kita harapkan untuk mendidik anak-anak kita, ataupun pemimpin yang kita harapkan akan menjaga ter-realisasinya ide pembangunan berkelanjutan. Dari mana semua penafsiran tulisan tadi ? Graphology adalah sebuah cabang ilmu dari ilmu Psikologi. Ilmu ini diberikan pada sebagian besar mahasiswa Fakultas Psikologi dalam mata kuliah Test Grafis atau Psikodiagnostik, dan sudah cukup lama ada dan dipelajari oleh banyak kalangan. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk ”membaca” karakter seseorang dengan membaca dan mengamati tulisan tangan dan karakter-karakter kepribadian yang ada di dalamnya. Di Amerika dan Eropa ilmu ini sudah sangat berkembang pesat dan banyak membantu para praktisi perekrutan pegawai, promosi pegawai, penyelidik keaslian dokumen dan terapist kepribadian. Ilmu yang sudah berkembang sejak awal tahun 1950-an ini sudah menyelamatkan banyak perusahaan (termasuk perusahaan dimana saya bekerja) dari kesalahan merekrut pegawai yang tidak produktif, tidak punya cita-cita, tidak jujur, malas, culas, boros, dan suka mau menangnya sendiri atau bahkan cenderung untuk mencuri.Graphology telah membantu banyak perusahaan untuk mendapatkan orang yang jujur, bercita-cita tinggi, berkemauan kerja tinggi, mengikuti aturan main dan mudah bekerjasama. Tulisan tangan seseorang adalah merupakan cerminan jujur dari apapun yang ada di dalam benak orang tersebut. Meski menulis adalah sebuah kegiatan yang nampaknya dikendalikan oleh pikiran sadar seseorang, tetapi sebenarnya pikiran bawah sadar seseorang lebih berpengaruh pada pola, bentuk dan karakter-karakter lain di dalam tulisan. Semua hal tentang seseorang terpapar dengan jujur dan gamblang pada tulisan tangannya. Bagaimana dengan guru ? Bagaimana dengan gerakan pembangunan berkelanjutan? Guru adalah pemimpin di dalam lingkungan sekolah. Apapun yang terjadi dengan siswa adalah merupakan cerminan langsung dari sikap, pandangan, karakter dan konsep diri guru. Apabila guru sebagai leader di sekolah tidak mempunyai konsep diri yang positif, dan itu bisa dilihat dari tulisan tangannya, sangat wajar kalau murid disekolah tersebut (meski sudah berganti-ganti) tetap mencerminkan dan memanifestasikan konsep-konsep diri yang negatif, termasuk tawuran. Tawuran tidak bisa dipandang hanya merupakan masalah pada siswa, tetapi lebih kepada para guru yang belum bisa tampil sebagai pemimpin dengan visi yang jelas dan kemauan mencapai yang tinggi. Di sini the Leader masih kehilangan a promising t Pembangunan berkelanjutan? Jelas membutuhkan banyak pemimpin dengan cita-cita yang jelas dan ngotot untuk mencapainya. Adalah berat sekali untuk mewujudkan sebuah keinginan akan bumi yang berkelanjutan apabila pemimpin-pemimpin yang berkecimpung masih menulis dengan huruf t yang loyo, huruf d yang menggelembung, dan huruf i yang titiknya memanjang dan lepas kendali. Jadi bagaimana kita memilih guru untuk anak kita? Atau pemimpin untuk membangun Indonesia yang lebih baik? Pilih yang tulisan tangannya mengandung a promising t !! Bagaimana dengan pemimpin yang menulis dengan kemiringan huruf yang berubah-ubah, tanda tangan yang tidak terbaca atau huruf g dengan ekor aneh? Ini adalah bahan bahasan selanjutnya. Stay tuned... Bayu Ludvianto Graphotherapist dan PLID Project Consultant |





