|
oleh: Bayu Ludvianto ......Sehingga apabila pada saat itu seorang salesman sedang giat menawarkan sebuah produk, dan kebetulan produk tersebut dihiasi dengan gambar semangka, maka kemungkinan besar anda akan menolak untuk membelinya, dan itu hanya karena gambar semangkanya. Kata-kata selalu mempunyai nuansa dan persepsi di dalam pikiran kita. Kata “hujan”, misalnya, bagi sebagian dari kita mungkin bermakna kesulitan, becek, bisnis seret, banjir, rumah bocor, terlambat ke airport dan lain sebaginya. Tetapi bagi putra anda yang berumur 5 tahun, “hujan” bisa bermakna asyik, seru, main air, petualangan, fun, kapal-kapalan, bahagia dan lain sebagainya. Sebaliknya kata (maaf) “gila”, bagi kita mungkin bermakna kagum, seru, tidak percaya, jengkel, kelewat batas, bisa dimaknai seorang anak sebagai: menakutkan, tidak sopan, tidak konsisten (kata Bapak kami tidak boleh berkata “gila”, ini Bapak malahan menyebutnya berkali-kali, sambil tersenyum lagi?!).
Selain mempunyai makna dan persepsi yang unik, kata-kata juga mempunyai energi pendorong yang luar biasa dan menyebabkan pikiran kita berkelana dan bahkan menyebabkan kita atau orang lain partner bicara kita melakukan hal-hal yang kadang tidak kita duga. Di sebuah area bermain pada sebuah gerai fast food international yang ada di Yogyakarta, tertulis “Jangan tinggalkan anak anda tanpa pengawasan orang tua”. Kalimat tesebut mempuyai masalah. Kata “jangan” adalah kata yang sulit untuk dibayangkan dalam pikiran kita dan sering tidak meninggalkan kesan apapun dalam otak. Bedakan dengan kata “tinggalkan” ataupun “anak”. Ke dua kata tersebut dengan mudah muncul dan mempunyai kesan dalam otak kita. Akibatnya pesan yang diterima pembaca kalimat itu adalah “tinggalkan anak anda!”, dan itulah yang terjadi, anak-anak sibuk main dan orang tua sibuk makan. Kata “jangan” ini memang menarik, karena sangat sering kita pakai tanpa sadar bahwa pengaruhnya pada pikiran pendengar ataupun pembaca sangat minimal. Itulah rahasia kenapa pada saat kita melarang anak-anak kita dengan kalimat: “Jangan ribut atau jangan main hujan, atau jangan main pisau”, yang terjadi adalah mereka tetap ribut, tetap main hujan dan tetap main pisau”! Hal ini sering membuat kita kebingungan dan bahkan menghukum anak kita, padahal kuncinya adalah pada kata-kata yang kita ucapkan, sederhana saja kata “jangan” tidak bisa diproses oleh otak anak-anak kita.
Selain nuansa ataupun citra yang dimunculkan oleh kata-kata, ada keajaiban kata-kata yang jarang menjadi perhatian kita. Keajaiban ini berkaitan dengan penyerapan kata-kata oleh panca indera pendengar ataupun pembaca. Tidak setiap orang mempunyai kemampuan yang sama dalam menyerap kata-kata, baik itu yang diucapkan ataupun tertulis. Sebagian orang, mudah menyerap kata-kata yang berkaitan dengan mata, orang lain menyerap lebih efisien lewat telinga, dan orang yang lain lagi lebih mudah menyerap kata-kata yang bernuansa gerakan ataupun diikuti dengan gerakan dan tindakan. Orang yang lebih ahli menyerap kata lewat mata mempunyai kecenderungan untuk menyukai citra visual. Buku, majalah, komik dan dan kata-kata yang bernuansa “mata”, seperti: “lihatlah, fokus, gambar, di atas, terangkan, put it on screen, grafik, tabel, tayangan” sangat mudah untuk diserap dan diolah di dalam pikiran orang visual. Kalau anda berbicara dengan orang visaul, gunakan kata-kata yang bernuansa “mata” dan gambar, maka dijamin komunikasi berjalan lancar dan anda ber dua dalam waktu singkat sudah menjadi “ sahabat karib”. Kata-kata tertentu yang disusun dengan hati-hati bisa menyebabkan pikiran pendengarnya melakukan “lompatan kesimpulan” tanpa memperhatikan keseluruhan kalimat. Misal: Saya tidak tahu pasti mungkin sebaiknya anda berangkat ke Jakarta sekarang. Kalimat ini, kalau diucapkan dengan keyakinan tinggi, dan teknik yang tepat) akan menyebabkan orang yang diajak bicara, merasa berkewajiban untuk berangkat ke Jakarta sekarang. Kata-kata “saya tidak tahu pasti, mungkin”, tidak mudah untuk diproses secara kritis dalam pikiran mitra bicara, sehingga yang langsung masuk dan diproses adalah sebuah perintah “berangkat ke Jakarta sekarang”. Dari ke dua contoh di atas anda pasti sudah mulai menyadari bahwa kata-kata (dan juga kalimat) mempunyai kekuatan tersendiri. Kekuatan untuk menyambung persahabatan, kekuatan untuk memunculkan friksi, kekuatan untuk membujuk, kekuatan untuk menggerakkan dan kekuatan untuk memilih dan merubah hidup seseorang. Ya betul, saya menuliskan kekuatan untuk memilih dan merubah hidup. Anda pengin tahu? Sabar…….. Dari mana asal kata-kata yang kita pergunakan Setiap saat kita bisa memberondongkan puluhan atau bahkan ratusan kata-kata ke sekeliling kita. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa orang laki-laki bisa menyebar sekitar 13.000 kata-kata dalam sehari, sedangkan wanita bisa menebar 25.000 kata-kata dalam sehari (atau kira-kira 1400 kata per jam)!. Dan karena itulah, seorang isteri sering sewot karena setelah seharian ke duanya sibuk di luar rumah, sang suami susah diajak bicara!! (jelas saja perbendaharaan katanya yang 13.000 sudah habis, sedangkan isterinya masih punya cadangan 12.000 kata lagi?!). Kebenaran pernyataan ini mungkin masih bisa diperdebatkan, tapi mari kita anggap itu benar, bagaimanapun lebih dari 13.000 kata-kata dalam sehari adalah jumlah kata-kata yang luar biasa banyak bukan? Dari mana semua kata-kata ini berasal, dan bagaimana bisa begitu banyak kata bisa ditebarkan dalam sehari?
Pada saat kita semua baru saja lahir, perbendaharaan kata kita bisa dikatakan sama dengan nol. Beberapa bunyi-bunyian mungkin memang terdapat dalam “program asli” seorang bayi, misalnya suara tangis yang bisa berupa “hoa..hoa…hoa”, tapi itu belum bisa disebut kata. Kata-kata mulai diperkenalkan dan dilatih waktu orang tua berusaha “memprogram” dengan kata “mama”, “papa”, “mamam” dan sebagainya. Bapak, Ibu, kakak, ataupun orang-orang terdekat adalah “progammer awal” bagi perbendaharaan kata-kata seorang bayi. Seperti yang disebutkan oleh Ariesandi Setyono (penulis Hypnoparenting), sampai seorang anak berumur 3 tahun semua program (termasuk kata-kata) yang dimasukkan ke dalam pikiran anak langsung masuk ke dalam pikiran bawah sadar anak tersebut (dan terpatri di dalamnya). Lebih jauh lagi Ariesandi mengemukakan bahwa sampai umur 7 tahun, kemampuan pemikiran kritis anak (pikiran yang melakukan penyaringan), masih belum sempurna, sehingga pemrograman oleh orang-orang terdekat (termasuk guru, TV, majalah, komik) sangat mempengaruhi pemikiran serta perbendaharaan kata-kata si anak. Sampai pada usia ini, semua input kata-kata (yang berasal dari manapun dan dalam bentuk apapun) selalu dianggap sebagai sebuah kebenaran bagi si anak dan disimpan dalam “data base” anak tersebut, sampai saat kata-kata tersebut diputuskan untuk dipergunakan oleh anak tersebut.
Seringkali, orang tua terperanjat .......... ...(bersambung) |