A FACILITATOR with A BEAUTIFUL MIND (bag II) PDF Print E-mail
A FACILITATOR with A BEAUTIFUL MIND
(bag II)

……. diskusi sebenarnya dilakukan.
The future belongs to those who believe
In the beauty of their dream
-Eleanor Roosevelt
Then…..dream
Untuk membantu merancang sebuah “Outcome” fasilitator bisa memulainya dengan  menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan seperti berikut:
“Apa yang saya inginkan terjadi di dalam acara diskusi yang akan saya fasilitasi?”
Fasilitator kemudian harus menuliskan sebanyak mungkin kejadian dan hasil diskusi yang diinginkan. Apabila fasilitator kesulitan untuk menjawab pertanyaan di atas, maka bisa dilakukan dengan membalik pertanyaan, menjadi:
“Apa yang saya tidak inginkan terjadi di dalam diskusi yang akan saya fasilitasi?
Tuliskan jawaban sebanyak mungkin, dan ini biasanya lebih mudah. Hal ini terjadi  karena memang karakter orang adalah lebih mudah mengemukakan hal-hal yang tidak diinginkannya., dibandingkan dengan hal-hal yang diinginkannya.
Misalnya jawabannya adalah: “saya tidak menginginkan………….”:
a.    peserta tidak memperhatikan saya
b.    peserta menolak mentah-mentah ide sustainable development
c.    peserta kesulitan mengemukakan pertanyaan
d.    adanya satu orang yang mendominasi diskusi,
e.    peserta tidak menuliskan komitmennya, dan seterusnya

Maka untuk membuat “out come” jawaban a,b, c dan d, tinggal dibalik 180o, sehingga menjadi:”saya menginginkan…….
a.    peserta penuh perhatian terhadap saya
b.    peserta menerima paham sustainable development dengan gembira dan antusias
c.    peserta dengan mudah dan sopan mengemukakan pertanyaan dan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari peserta lainnya,
d.    seluruh peserta menikmati acar diskusi, dan setiap peserta mendapat alokasi perhatian dan waktu untuk mengemukakan pendapat atau
ide
e.    peserta menuliskan komitmennya dengan senang dan mengumumkannya kepada peserta lainnya

Setelah fasilitator tahu persis apa yang dia inginkan maka langkah berikut adalah menentukan langkah untuk mencapai keinginan tersebut. Untuk itu, sebuah pertanyaan yang diawali dengan kalimat:”Dengan cara apa saja……..?, bisa menjadi pemicu munculnya cara untuk mencapai tujuan itu.
Misalnya untuk tujuan a, maka tanyakan: “Dengan cara apa saja saya harus membuat peserta menjadi penuh perhatian terhadap saya?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa saja:
a.    berbicara dengan ucapan yang jelas, intonasi dan volume yang bervariasi, serta mimik muka yang penuh perhatian,
b.    pada waktu-waktu tertentu membuat sebuah lelucon,, ataupun sebuah cerita singkat yang mengundang emosi,
c.    berpakaian sesuai dengan cara berpakaian sebagian besar peserta diskusi, kalau mereka memakai setelan jas lengkap, maka saya juga
harus mengenakan jas lengkap,
d.    menatap mata peserta satu per satu, masing-masing tidak lebih dari 2 detik
e.    dan seterusnya

Terlihat di sini, bahwa hanya dengan menggunakan satu pertanyaan “Dengan cara apa saja….”, fasilitator sudah mulai bisa mempersiapkan diri untuk “memasuki” arena diskusi. Fasilitator mulai membayangkan, dan bahkan sudah bisa mulai membuat skenario dari pelaksanaan diskusi sejak dirinya memasuki ruang diskusi.
a.    Bagaimana dia mau masuk ruangan,
b.    Kata-kata apa yang harus diucapkan pertama kali,
c.    Bagaimana dia mau mengemukakan topik pembahasannya,
d.    Apa peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok?
e.    Berapa anggota tiap kelompok?
f.    Apa musik pengiring sudah siap,
g.    Apakah nanti modelnya fasilitator mengemukakan topik bahasan, atau meminta salah satu untuk membacakan topiknya,
h.    Pertanyaan apa saja yang perlu dikemukakan untuk memancing partisipasi
i.    Apabila ada seorang yang mendominasi apa yang akan dia lakukan?
j.    Siapa yang akan mencatat hasil diskusi,
k.    Bagaimana dia akan mengendalikan waktu,
l.    Diskusi terus menerus atau mau diselingi dengan break, misal permainan ,brain gym, karaoke, atau minum kopi?
m.    dan seterusnya

Intinya, sebelum diskusi yang sebenarnya terlaksana, fasilitator harus sudah bisa merasakan, melihat dengan jelas, mendengar dan menikmati jalannya diskusi. Fasilitator sudah bisa membayangkan secara mental seluruh suasana diskusi, dan senyum keberhasilan setiap peserta setelah diskusi selesai.


Before you facilitate
Be a script writer,  a director, an actor and
A spectator of your own dream.
-Bayu Ludvianto



Peran fasilitator yang sebenarnya…….
Di dalam sebuah diskusi, fasilitator mempunyai peran ganda yang sangat penting, yakni:
1. sebagai “Navigator Diskusi” dan
2. sebagai “Re-educator”

Sebagai Navigator, fasilitator harus jeli dalam memantau arah diskusi, masih cocok dengan “Outcome” yang dia inginkan atau tidak. Kalau tidak, navigator harus cepat mengarahkan dan mengembalikan pada “track” yang sebenarnya. Caranya?


(bersambung)……….