| DIALOG KPT: APA YANG HARUS DIBENAHI DAHULU……?* |
|
|
|
|
DIALOG KPT: APA YANG HARUS DIBENAHI DAHULU……?* “Program Dialog KPT ini bagus dan perlu dilakukan, tapi…………
- Apa para Bupati itu mau hadir? (terbatas waktu dan minat), - Apa para Bupati itu punya peluang untuk menerapkannya di lapangan? (Bupati bukan satu-satunya pengambil keputusan di Kabupaten), Ke dua pertanyaan di atas selalu menggelayuti setiap langkah untuk membawa KPT menjadi sebuah program yang “up and running”. Serangkaian pertemuan yang telah dilakukan dengan para Bupati, Walikota dan pejabat-pejabat lain di Kabupaten dan Kotamadya, yang merupakan calon potensial paserta Dialog KPT, sedikit banyak menguak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Terlepas dari berbagai jawaban yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan KPT (misalnya, topik dialog sebaiknya sesuatu yang diminati oleh peserta, ataupun program KPT harus dilengkapi dengan sistim “marketing” yang progresif, sehingga peminat tertarik untuk hadir), nampaknyahal mendasar yang perlu dipertimbangkan adalah “cara memposisikan program KPT, sebagai sebuah program yang bukan hanya sebagai program penguatan Bupati/Walikota (yang mempunyai masa tugas maksmimal hanya 2 x periode), tetapi lebih sebagai sebuah program penguatan personal for life” bagi personal Bupati. Hal ini perlu, karena Bupati/Walikota adalah juga manusia, yang mempunyai visi dan misi pribadi, dan visi dan misi pribadi ini jelas sangat mempengaruhi keputusan untuk menghadiri dan mengikuti program dan mentransformasikan pemahaman yang didapat dalam Dialog KPT, pada pengambilan keputusannya sebagai pejabat tertinggi di Daerah Tingkat II. Kepemimpinan for life, it’s about operating systems Karena program KPT ini adalah sebuah “wadah dan kendaraan” untuk tercapainya sebuah Kabupaten yang berjalan selaras dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, maka Dialog sebaiknya juga berfungsi sebagai “mind reprogramming session”, di bidang kepemiminan bagi para pesertanya. Hal ini penting karena para peserta datang dari berbagai kalangan dan latar belakang, yang tentunya telah membawa persepsi yang beraneka ragam tentang kepemimpinan, kehidupan, karier, kebahagiaan, sukses, kegagalan, cita-cita, cinta, dan pembangunan berkelanjutan. Beragamnya persepsi ini, tentunya berkaitan erat dengan pengalaman hidup dan pola pikir seseorang. Untuk itu penggalian dan penyelarasan persepsi baik itu berkaitan dengan kehidupan, dan lebih lagi tentang hubungan dengan lingkungan perlu diintegrasikan di dalam program KPT. Diharapkan setelah mengikuti KPT para peserta bisa berubah menjadi orang yang optimis, kreatif, gigih dan punya cita-cita jelas dan berani mengambil aksi yang selaras dengan prinsip Pembangunan Berkelanjutan. Persepsi menimbulkan keyakinan dan keyakinan memicu munculnya konsep diri (bisa positif atau negatif). Konsep diri inilah yang nantinya berfungsi sebagai sistim operasi (“operating system”) di dalam pikiran seseorang. Apabila diibaratkan sebuah komputer, maka konsep diri ini adalah Microsoft Windows, sedangkan berbagai ilmu yang lain (misalnya tentang pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial dsb), merupakan software teknis (mis. Correl Draw ataupun MS Words) yang ditambahkan dan dipergunakan untuk tujuan tertentu. Meskipun software teknisnya (misal Corel Draw, atau MS Word) adalah versi yang terbaru (misal terbitan Juni 2007), tetapi kalau Windows nya masih versi kuno (misal versi 3.1, terbitan tahun 90 an), maka jelas kinerja Correl Draw ataupun MS Word-nya akan lambat dan terseok-seok. Proses “menggambar” dan atau “menulis” menjadi sebuah penderitaan yang berkepanjangan dan penuh penyesalan. Untuk itu program KPT yang sudah dipersiapkan dengan adanya berbagai studi kasus dan modul (ini ibaratnya adalah software teknis: misal tentang Pembangunan Berkelanjutan, Decsision making dsb), perlu dilengkapi dengan modul dasar yang berkaitan dengan Perbaikan Pola Pikir untuk membentuk Konsep Diri (“operating systems”) yang Positif. Dengan semikian peserta bisa mengambil posisi sebagai pelaku, bukan korban; sebagai pemenang, dan bukan pecundang, hidup penuh kelimpahan, dan bukan terus dalam keterbatasan; dan mempunyai persepsi dunia ini indah dan penuh potensi, bukan dunia yang reyot dan menua tanpa harapan. Adalah sangat mustahil untuk mengajak para Bupati dan Walikota untuk menciptakan kehidupan yang penuh kesetaraan dan keharmonisan antara berbagai komponen kehidupan, apabila pada saat yang sama dia berpikir jabatan saya hanya tinggal 2 tahun. “Setelah dua tahun ini saya bagaimana?” (berjiwa “looser” dan tidak kreatif serta takut dengan keterbatasan). Memang merubah konsep diri membutuhkan waktu, apalagi untuk hal yang berkaitan dengan “ketakutan”, karena menurut penelitian, seorang yang sudah berumur 18 tahun umumnya sudah mendengarkan kata “jangan” dari orang tua dan orang sekelilingnya sebanyak lebih dari 148 000 x dan membaca serta mendapat input negatif 77% dari seluruh informasi yang diserapnya (silahkan iseng-iseng kategorikan informasi yang terdapat di koran atau berita TV, sekitar 70% atau lebih isinya hal-hal negatif yang membuat perasaan kita tidak nyaman). Inilah alasan kenapa banyak orang takut berbuat, takut mencoba, takut keluar dari “comfort zone”nya. Jelas, orang seperti ini “operating systemnya” sudah terlalu out of date atau bahkan sudah terinfeksi virus “negatif” sejak kecil,. Akhirnya harga diri dan kepercayaan dirinya (yang merupakan bagian dari konsep dirinya), hancur, sehingga takut berbuat ini, takut berbuat itu. Salah satu sebabnya, jelas, karena sejak kecil sering diteriaki orang tuanya (ataupun juga guru, baby sitter, pak Dhe, mbak yang kost dsb) dengan “jangan ini…jangan itu”. Untuk itu sebelum kita berharap para pengambil keputusan (Bupati, Walikota, DPRD atau siapapun juga), untuk bertindak positif dan selaras dengan lingkungan (dan kadang tidak selaras dengan kemauan mitra-mitranya sehingga dia harus berani keluar dari “comfort zone”nya), program KPT perlu melakukan pemrograman ulang “operating system” mereka (ini bisa ibaratnya dalam bentuk reformating, virus cleansing ataupun install yang baru). Adalah sangat berat menghasillkan pemimpin dengan “operating system” yang masih belum beres. Untuk itu demi kesempurnaan KPT dan sekaligus menawarkan perbaikan diri bagi para calon peserta dialog, maka sebuah workshop tentang “Transformational Thinking” perlu ditambahkan dan dijadikan ikon penarik dalam “pemasaran” prgram dialog. Workshop ini akan merubah pola pikir peserta dari yang selalu khawatir, berjiwa “looser”, saya ini korban (dan orang lainlah yang menyebabkan saya seperti ini), tidak kreatif, dan memandang dunia ini selalu terbatas (sehingga maaf kadang perlu bertindak yang melenceng karena “mumpung”), menjadi seorang yang positif, berjiwa pemenang, saya adalah pelaku, penuh kreatifitas, dan selalu bersyukur karena kelimpahan yang dikaruniakan Tuhan. Setelah “operating system” seorang pejabat publik itu dibenahi (“update dengan versi terbaru”), dan bebas virus, baru kita bisa berharap mereka mau dan mampu menjalankan program-program add on (misalnya Pembangunan Berkelanjutan), dalam kehidupan sehari-harinya sebagai pengambil keputusan.
Sebuah komputer hanya bisa performs optimal apabila |


