| A FACILITATOR with A BEAUTIFUL MIND (bag I) |
|
|
|
|
Bayu Ludvianto All physical existence is a concrete corresponding manifestation of the thought which gave it birth - Thomas Troward Diskusi telah berjalan 30 menit, awalnya semua berjalan dengan baik dan fasilitator mulai menikmati perannya, tetapi pada menit ke 32, sejumlah peserta mulai kehilangan arah, saling menyalahkan, saling ngotot, dan bahkan satu orang di bagian tengah sudah mulai merah mukanya karena berteriak-teriak dan tidak satupun orang yang memperhatikannya. Sangat jelas terlihat bahwa diskusi telah bergeser menjadi sebuah ajang pamer kekuatan, pamer pengetahuan, dan pamer keberanian, dan lebih ruwet lagi, sebentar lagi menjadi ajang adu otot. Tampak fasilitator berusaha mati-matian untuk memegang kembali kendalinya, tetapi kenyataannya diskusi yang seharusnya menyenangkan malahan menjadi ajang saling menggugat, sehingga kata-kata yang tidak sopanpun mulai berhamburan di sana-sini. Apa sebenarnya yang terjadi? Jelas bukan diskusi seperti ini yang kita semua harapkan? Betul?
Tapi kenapa bisa berakhir seperti itu? Salah satu kemungkinan besar yang bisa menjadi sebab adalah adanya kekurangan siapan dan kekosongan “Focused Outcome Mindset” atau “Pikiran Berdasarkan Hasil”, di pihak fasilitator. Kondisi diskusi seperti tergambar di atas bisa terjadi karena fasilitator belum sempat mempersiapkan atau bahkan tidak mempunyai sebuah “outcome” yang jelas dan matang. Bahasa sederhananya, fasilitator menyerahkan jalannya diskusi kepada peserta diskusi tanpa tahu apa yang harus terjadi. Bayangkan kondisi sebaliknya, ruangan diskusi penuh tawa, semua peserta begitu antusias untuk berpartisipasi dan ide-ide briliant muncul di sana-sini. Peserta yang mendapat bagian untuk mencatat temuan-temuan ide, begitu bersemangatnya menuliskan semuanya di white board. Dia sangat bersemangat karea ide demi ide solusi demi solusi, dan pertanyaan-pertanyaan yang memancing kreativitas terus bermunculan. Bapak Kresna dengan muka cerah dan wajah gembira sedang mengemukakan pendapatnya. Katanya: “Resort itu memang mau dibangun di dekat kawasan mangrove, kalau dipikir pakai ilmu ekologi, pembangunan itu berbahaya, kita bisa saja melarangnya…tapi saya punya minimal tujuh ide supaya pembangunan tetap bisa jalan, dan mangrove tetap terjaga…..Bagaimana, apa kita semua mau dengar ide-ide saya??. Ini sangat menarik, kita berkata dalam hati, selama ini “it’s a big NO”, membangun di sekitar mangrove, eh pak Kresna punya ide, dan bukan hanya satu…ada tujuh ide….wah luar biasa!. Dan kita pun, ikut bersemangat untuk memicu peserta lainnya untuk “urun rembug”, sehingga kita berkata pada peserta diskusi: “Ok Bapak dan Ibu sekalian, saya pikir banyak orang akan setuju kalau saya minta kita semua memperhatikan ide-ide pak Kresna, dan bahkan menambahkan 5 ide baru, dan setelah itu kita break, bisa kan? Dapat dipastikan antusiasme kita, yang direspon dengan posiitf oleh peserta akan membuat diskusi menjadi semakin menarik dan menyenangkan serta menghasilkan banyak pengertian-pengertian baru bagi peserta, dan tentu saja kita. Kenapa skenario ke dua bisa sangat berbeda dengan skenario pertama? Kuncinya adalah pada “focused outcome mindset ” dari fasilitatornya. Pada skenario ke dua, fasilitator sudah jauh-jauh hari mempersiapkan sebuah “diskusi virtual” di dalam otaknya, dia sudah memutuskan “outcome” bagi diskusinya, sehingga semuanya bisa berjalan lebih menarik dan tepat sasaran. Diskusi adalah sebuah “playing ground”, |


