Kekeringan Lahan Terkait Musim yang Sulit Diprediksi PDF Print E-mail
Kekeringan yang saat ini melanda sejumlah daerah pertanian di Pulau Jawa dinilai ada hubungannya dengan perubahan musim yang sulit diprediksi. Demikian pernyataan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krishnamuti.

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang saat ini menjadi penyebab utama keringnya areal pertanian di sejumlah daerah di Indonesia.
"Masalah yang berkenaan dengan air secara garis besar ada dua. Yang pertama, musim hujan dan kering menjadi jauh lebih sulit untuk diperkirakan, polanya jadi jauh lebih nggak pasti," paparnya.
Karena, lanjut Bayu, laporan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada April lalu menunjukkan bahwa situasi musim 2008 adalah kering basah. Di mana, musim kemaraunya itu basah dan hujannya diperkirakan relatif lebih banyak dari biasanya. Namun, menurut Bayu, prediksi itu jauh berbeda dengan kenyataannya.
"Sekarang, Juli ada indikasi bahwa ini ternyata tidak kering basah, mungkin lebih kering dari yang kita perkirakan," jelasnya.
Bayu menambahkan, penyebab kekeringan lainnya adalah debit air dalam daerah aliran sungai sulit untuk tersedia dalam jumlah yang cukup. Ini dikarenakan kian berkurangnya konversi lahan dari hulu dalam bentuk daerah resapan air, hingga membuat daerah tersebut menjadi lebih rendah daya serap airnya.
"Tingkat konversi dari penutupan permukaan tanah dari yang bisa menyerap air menjadi lebih tinggi," ucapnya.
Untuk itu, Bayu memaparkan sejumlah solusi yang akan diusahakan pemerintah. Yakni, memercepat gerahan untuk daerah-daerah tangkapan air dan mencoba untuk mengembangkan program-program rehabilitasi dan konservasi DAS baru.

Sumber:www.economy.okezone.com