| Miskin di Tengah Kekayaan Sumber Daya Alam |
|
|
|
Pesatnya pembangunan negeri yang kaya sumber daya alam tidak serta merta meningkatkan harkat martabat dari negeri itu sendiri. Sebagian besar penduduk negara berkembang ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Meskipun gedung-gedung menjulang tinggi di kota-kota besar seperti Indonesia, New Delhi, Tanzania, Brazil dan sebagainya, namun ternyata rumah-rumah gubuk berdiri di baliknya dengan renta.
Bahkan di kawasan sumber daya alam (tambang dan hutan) negara itu, warga setempat mengalami kemiskinan dan penderitaan yang menyedihkan.“Apa yang terjadi di India dengan tambang bauksit dan aluminiumnya sama dengan di Indonesia. Kemiskinan dan kebodohan. Bahkan budaya dan kearifan lokal masyarakat juga hilang,” ungkap F. Antonie Ruardy dari Forum for Environmental Care and biodiversity (FECB) di sela acara South to South Film Festival 2008 di Goethe Institute, Jakarta (26/1). Dia menegaskan bahwa Pemerintah seharusnya meningkatkan pendidikan masyarakat tersebut. Pemerintah juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan mereka bukan hanya mengeruk sumber daya alam dan menikmatinya sendiri. Namun yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat seputar tambang menjadi terusir dan semakin terpuruk. Pendapat yang sama juga disampaikan Rachmat Witoelar sebagai Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia saat sambutan Pembukaan StOS 2008 (25/1). Menurutnya negara selatan-selatan yang kaya akan sumber daya alam selalu berkonotasi dengan kemiskinan. Sementara itu negara utara yang memanfaatkan sumber daya alam terebut merupakan negara maju dengan segala kemegahannya. “Kemiskinan dan lingkungan hidup bagaikan dua mata uang yang sama. Bila masyarakat miskin maka lingkungan pun akan rusak, begitu pun sebaliknya, lingkungan yang rusak akan membuat masyarakat semakin miskin,” ungkap Witoelar. Menurutnya kerusakan sumber daya alam akan menjadi pangkal tolak kerusakan sisi kehidupan lainnya. Maka pembangunan tidak hanya mengutamakan kepentingan ekonomi saja, tetapi seharusnya juga mengutamakan kepentingan lingkungan dan sosial. Namun yang terjadi tidak demikian. Para pemimpin dan pemegang kebijakan di negeri ini masih belum mampu berwawasan lingkungan. “Tanpa wawasan lingkungan pembangunan di Indonesia tidak mampu mengutamakan kepentingan lingkungan dan dampaknya tentu pada manusia,” kata Antonie. Untuk itu dia mengusulkan adanya Partai Hijau. Dengan partai yang berwawasan lingkungan, para pengambil kebijakan diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang mengutamakan lingkungan dan mensejahterakan masyarakat setempat. Selama ini menurut Witoelar, ada persepsi bahwa kerusakan lingkungan hidup akibat dari kesalahan kebijakan dalam eksploitasi sumber daya alam di sektor tambang dan kehutanan. Namun sebenarnya permasalahan dalam pelestarian lingkungan hidup begitu komplek. “Melalui acara StOS 2008 ini masyarakat dapat menyampaikan kritik, pesan dan masukannya untuk lingkungan hidup ini,” jelas Witoelar. Tak hanya menyarankan agar masyarakat bersuara, Presiden COP 13 di Bali Desember lalu ini juga menulis pesan untuk Presiden Terpilih 2009/2014 melalui Pohon Pesan di acara StOS 2008. Isinya mengajak Presiden Terpilih untuk mempertahankan kelestarian lingkungan, hutan dan lahan serta mensejahterakan masyarakat. Suara masyarakat sangat penting dalam menentukan arah kebijakan yang berwawasan lingkungan. Menurut Siti Maemunah, Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (jatam), masalah lingkungan hidup bukan hanya masalah sederhana menyangkut sampah tetapi juga berkaitan dengan politik dan sebagainya. Dalam setiap keputusan politik itu warganegara memiliki suara yang turut menentukan pula. Warganegara harus memiliki kepedulian kepada saudara-saudara di daerah lain yang menjadi korban eksploitasi sumber daya alam. Setidaknya tindakan mereka harus berhati-hati, tidak boros energi dan menyuarakan kebijakan yang mengutamakan harkat martabat masyarakat korban. Menurut Voni Novita sebagai Ketua Penyelenggara StOS 2008 dengan tema Vote for Live mengaharapkan agar setiap orang dapat menentukan pilihan hidupnya menjadi lebih baik dengan lingkungan yang lebih baik. Selain itu juga mengusung tema We are Conect untuk menghubungkan antara apa yang terjadi di hulu yang merupakan daerah eksploitasi sumber daya alam dengan daerah hilir yang merupakan daerah-daerah yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Sehingga muncul kepedulian untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik dari masyarakat hulu (korban eksploitas) dan berupaya bangkit dari kemiskinan. StOS 2008 diselenggarakan oleh Ecosister, Jatam, FWI, Walhi, Goethe Institute, dan Gekko Studio di Goethe Institute Jakarta, 25-27 Januari 2008. Sumber : beritabumi.or.id (Ani Purwati) |



Pesatnya pembangunan negeri yang kaya sumber daya alam tidak serta merta meningkatkan harkat martabat dari negeri itu sendiri. Sebagian besar penduduk negara berkembang ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Meskipun gedung-gedung menjulang tinggi di kota-kota besar seperti Indonesia, New Delhi, Tanzania, Brazil dan sebagainya, namun ternyata rumah-rumah gubuk berdiri di baliknya dengan renta.
Bahkan di kawasan sumber daya alam (tambang dan hutan) negara itu, warga setempat mengalami kemiskinan dan penderitaan yang menyedihkan.