Membumikan Isu Bumi PDF Print E-mail
Gaya hidup kita yang menentukan, apakah terus tetap hidup atau mati pelan-pelan. Kalimat ini mengartikan Vote for Life sebagai slogan yang diusung South to South Film Festival 2008. Acara yang dilangsungkan pada 25 - 27 Januari 2008 ini dibuka Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.
Isu lingkungan hidup menjadi popular sejak Al Gore merilis film An Inconvenient Truth dan secara maraton mengampanyekan masalah pemanasan global. Di Indonesia, isu pemanasan global yang diikuti isu perubahan iklim mendadak populer saat negara ini menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB yang diselenggarakan di Bali, Desember tahun lalu.
Gaya hidup dan kenyamanan yang selama ini tanpa disadari terus kita jalani ternyata memberikan kontribusi atas perusakan lingkungan. Perhiasan emas yang dikenakan, gas karbon yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang kita tumpangi atau pohon yang ditebang untuk dijadikan tusuk gigi dan kertas adalah contoh kecil dari kontribusi terhadap perusakan lingkungan tersebut.

Penyederhanaan masalah dalam isu lingkungan hidup dan penyelamatan bumi dipilih oleh Jaringan Tambang, Walhi, Ecosisters, dan Forest Watch Indonesia melalui penyelenggaraan South to South Film Festival yang kedua ini. Tak hanya melalui pemutaran 15 film dokumenter bertema lingkungan yang diputar, tetapi juga acara diskusi "sederhana" (yang tak tanggung-tanggung sampai menghadirkan artis Happy Salma dan dua Miss Earth Indonesia) dan pameran foto menjadi bagian dalam festival ini.

Begitu menggemanya isu lingkungan hidup, yang mengalami penyempitan makna menjadi perubahan iklim atau pemanasan global, tercermin pada tingginya apresiasi masyarakat terhadap festival ini. Terbukti selama tiga hari penyelenggaraan festival, bangku penonton nyaris terisi penuh. Khalayak yang datang pun bervariasi, mulai dari siswa sekolah dasar dan menengah pertama, mahasiswa, aktivis lingkungan, dan masyarakat umum yang bahkan berdomisili di luar Jakarta.

Perhatian dan kepedulian masyarakat yang tinggi tentu tak ada artinya tanpa peran pemerintah. Sayangnya, atas nama penghasilan negara, pemerintah sering mengabaikan kepentingan pelestarian lingkungan. Rakyat dan segala kepentingannya pun terpinggirkan, seperti tertuang dalam puisi Bayu Gautama "Undangan untuk Tuan Presiden", yang menjadi juara pertama dalam lomba puisi yang menjadi bagian dari South to South Film Festival:

Tuan...

Sesekali nanti, coba main ke kampungku

Tak usah pakai safari atau jas

Cukup sandal jepit dan kaus oblong saja

Biar pakaian tuan tak kena kotor

Juga biar tuan tak dipandang aneh oleh orang-orang kampung

.Bagaimana tuan?

Aku mengundangmu sakali lagi

Jika tuan menerima undanganku

Tuan pasti akan kuajak berkeliling ke rumah sanak familiku

Bapakku sekarang dipenjara tuan....

Karena coba membongkar irigasi milik tuan-tuan kaya dari kota

Simbo'e memilih pergi meninggakan kampung

Bukan karena malu, tapi bekerja jadi pengemis di Jakarta

Adikku yang baru dua tahun, baru saja mati dua minggu yang lalu

"Kenapa?" itu mungkin tanya tuan dalam hati

Dikampungku sudah tak ada lagi air bersih

Kekeringan sudah meneguk air sampai habis

"Tapi dari laporan yang aku dapat, masih ada sumber air di di ujung kampungmu?"

Ya, tuan betul....

Hanya saja, mata air itu sudah bukan lagi milik kami

Sebuah perusahaan air mineral dalam kemasan, sudah membelinya dari pemerintah daerah setahun yang lalu

Tuan tak perlu terkejut

Pendahulu-pendahulu tuan lah yang sudah mengajarkan bupati di tempatku untuk selalu berhitung untung rugi, padahal yang aku tahu dari sebuah buku tua, tanah air dan udara dikuasai negara. Tapi kenapa?

Coba sini tuan lebih dekat

Biar tuan tahu jika kami tak punya apa-apa lagi

Selain petak-petak kecil sawah yang kini tanahnya mengeras seperti karang

Tuan bangun....

Kami menunggu janji yang pernah tuan katakan, saat pemilu lalu (*)

Sumber : ©2008 VHRmedia.com