| Ditunggu : Konperensi Vandalis Yogyakarta! |
|
|
|
Jenis vandalisme yang paling umum adalah mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya. ( Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia ) BERITA tentang perusakan berupa corat coret, pencopotan kaca nako di halte bus patas di Kota Yogyakarta yang dimuat beberapa media lokal baru-baru ini, serasa menghenyakkan kita semua.
Sebab halte bus patas tersebut dalam tahap akhir penyelesaian dan belum diresmikan secara resmi penggunaannya serta sedang dalam tahap akhir persiapan menjelang beroperasi pada awal tahun ini. Keberadaan fasilitas tersebut juga sangat bermanfaat bagi masyarakat umum dan sangat ditunggu-tunggu kehadirannya dalam rangka menciptakan transportasi yang aman dan nyaman tetapi murah, khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa.Semua fihak terkejut akan aksi itu, menyayangkan, sekaligus geram terhadap ulah sekelompok oknum tertentu yang berbuat demikian.
Kepolisian bertekat akan menyelidiki dan menindak tegas terhadap siapapun yang terlibat dalam aksi itu. Di Kota Yogyakarta, sebenarnya aksi vandalisme dan juga aksi anarkhis ini sudah terjadi dalam waktu yang relatif agak lama pada tahun-tahun sebelumnya. Lihatlah aksi corat-coret dan perusakan fasilitas umum seperti terminal, stasiun, papan nama instansi, rambu lalu lintas, telepon umum, dll. yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum tetapi justru telah dirusak oleh oknum tertentu. Tindakan tersebut bukan hanya merugikan secara materiil semata, tetapi juga menyangkut kerugian immateriil yang diderita oleh masyarakat umum, seperti kerugian waktu dan kerugian mendapatkan fasilitas pelayanan publik yang mengakibatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan sehari-hari tidak tercapai dengan baik dan ini tidak bisa digantikan dengan materi seberapapun jumlahnya. Siapa Pelakunya? Di Universitas Gadjah Mada pernah terjadi vandalisme pada saat diadakan acara Pemilihan Raya Tahun 2006.
Vandalisme itu dilakukan atas sejumlah papan nama , pagar dan dinding bangunan di kompleks Universitas Gadjah Mada, pelakunya diduga sekelompok oknum tertentu yang sudah teridentifikasi, tetapi belum bisa dibuktikan kebenarannya. Perum Kereta Api juga mengalami kerugian tidak sedikit, akibat kerusakan infra struktur, baik rel kereta api, panel-panel signal, papan nama maupun dinding bangunan stasiun yang merupakan akibat dari aksi vandalisme, sehingga Perum KA bermaksud memasang rel kereta api anti vandalisme. Dan sekarang vandalisme ini menimpa halte Bus Patas di Yogyakarta yang belum diresmikan pemakaiannya. Siapakah pelakunya? Siapa dalang dibalik pelaku? Adakah motif tersembunyi di balik itu? Semuanya serba belum jelas! Apa Motivasinya? Vandalisme yang berbuntut tindakan anarki, secara umum dilakukan karena berbagai sebab, antara lain: karena iseng belaka, karena ingin menunjukkan jati diri dan kelompoknya kepada publik, karena penyakit jiwa, karena motif kriminal dan berbagai sebab yang lain. Motivasi tindakan tersebut diperparah oleh kultur masyarakat yang rendah sense of belonging nya, sehingga budaya memelihara fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah tidak dimiliki oleh masyarakat, di samping itu kepedulian masyarakat terhadap pemeliharaan fasilitas umum sudah demikian menggejala khususnya di kalangan anak remaja, lihatlah motto: "cuek is the best", "Generasi yo ben to", dll. Kenapa aksi tersebut begitu tumbuh subur dan berkembang di Kota Yogyakarta yang notabene merupakan kota pelajar? Kenapa aksi tersebut merebak di kota ini, yang mayoritas pemudanya adalah para pelajar dan mahasiswa? Bukankah mereka merupakan masyarakat terpelajar yang seharusnya santun dan berbudaya, beretika ketimuran yang identik dengan kesopanan dan kehalusan budi? Apakah pendidikan di kota ini telah gagal? Ataukah di sekolah/di kampus tidak diberikan mata pelajaran budi pekerti? Banyak pertanyaan senada yang bisa dilontarkan, tanpa jawaban pasti! Bahkan kitapun tidak tahu pasti. Perlukah jawaban itu bagi kita? Sebab hampir semua orang sepakat yang penting saat ini adalah solusi! Usulan Pemikiran kreatif yang cenderung centil, menggelitik dan sedikit agak nakal, adalah adanya usulan yang bernada miring.
Perlukah kita menyelenggarakan konperensi bagi para vandalis (pelaku vandalisme)? Konperensi atau katakanlah seminar ini berupa gathering khusus bagi komunitas vandalis di kota ini, dikemas secara menarik, familier, non formal, bernuansa muda, lalu dengarkan apa pendapat mereka tentang pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas publik yang baik di kota ini. Hasil konferensi tersebut dikomunikasikan kepada fihak yang berkompeten secara langsung, seperti pemerintah, perwakilan kelompok masyarakat dan juga LSM, lalu didiskusikan dan dibuat agenda "pertemuan" dengan para vandalis. Dengan two way traffic comunications ini diharapkan kita akan menemukan solusi yang tepat atas dasar budaya nguwongke, sebagaimana kelaziman yang berkembang di masyarakat Jawa ini. Sehingga konteks pembicaraan kita dengan para vandalis adalah bukan bertempur melawan musuh, tetapi berbincang-bincang dengan teman yang sudah lama tidak bertemu dan berdiskusi untuk mengatasi permasalahan yang ada. q - c (2805-2008). *) Drs Walfaria MSi, Pengamat Masalah Sosial. Sumber: Kedaulatan Rakyat |



Jenis vandalisme yang paling umum adalah mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya. ( Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia ) BERITA tentang perusakan berupa corat coret, pencopotan kaca nako di halte bus patas di Kota Yogyakarta yang dimuat beberapa media lokal baru-baru ini, serasa menghenyakkan kita semua.