Pengelolaan DAS tak Optimal, Banjir Meluas PDF Print E-mail
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tidak optimal menjadi salah satu penyebab utama bencana banjir dan longsor yang terjadi di beberapa daerah belum lama ini.
“Intensitas curah hujan harian saat banjir menyapu daerah sepanjang aliran Bengawan Solo di Jateng dan Jatim serta beberapa tempat lainnya normal. Besar kemungkinan kondisi itu diakibatkan oleh degradasi lahan di semua DAS,” kata Guru Besar Konservasi Tanah dan Air, IPB, Prof. Dr. Naik Sinukaban.

Degradasi DAS itu, menurut dia, menyebabkan kerusakan fungsi hidrologis, menurunnya kapasitas infiltrasi, dan meningkatnya koefisien aliran permukaan sungai.
Ini karena penggunaan dan peruntukan lahan yang sudah menyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah dan Tata Ruang Daerah (RTRW/RTD) di dalam DAS.
"Daerah yang diperuntukkan sebagai hutan lindung banyak yang dialihfungsikan menjadi areal pertanian, sedang hutan produksi disulap menjadi permukiman dan areal pertanian. Kondisi itu semakin diperparah oleh perencanaan RTRW/RTD yang tidak seluruhnya didasarkan pada kemampuan lahan," katanya seperti dikutip Antara.
Tidak adanya UU Konservasi Tanah dan Air yang mengharuskan seluruh masyarakat menerapka teknik konservasi tanah dan air secara memadai setiap menggunakan lahan juga ditudingnya menjadi penyebab degradasi lahan di DAS.
Sementara Prof. Dr. Totok Gunawan dari Fakultas Geologi UGM menilai aktivitas manusia menjadi penyebab utama kerusakan DAS yang berujung pada datangnya bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.
Bencana alam yang melanda Jawa Tengah selama 17 Desember2007 - 3 Januari 2008 telah menyebabkan 91 orang meninggal dunia, luka berat 74 orang, dan luka ringan 15 orang. Sementara itu, sedikitnya 29.048 hektare tanaman padi di 17 kabupaten di Jawa Tengah terendam air.

sumber:ghabo