|
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bojong dinilai masih perlu disempurnakan karena masih mengeluarkan bau, bangunan kurang ventilasi, dan daya olah mesin hanya berkekuatan 150 ton dari 2.000 ton sampah per hari. Hal itu disampaikan Henky Sutanto, peneliti lingkungan dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3TL) BPPT di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, ruang pemilahan sampah yang menampung sekitar 300 karyawan yang bekerja selama delapan jam sehari, tidak baik dari segi kesehatan. ''Ruangan itu didesain cukup rapat tanpa ventilasi memadai. Padahal, karyawan tidak boleh menghirup udara tercemar sampah,'' jelasnya. Soal teknologi yang digunakan di TPST Bojong, menurut Henky, cukup modern dan lebih aman dibanding dengan sistem sanitary landfill seperti yang digunakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Konsep yang ditawarkan sistem dari Swedia itu, tuturnya, sudah cukup baik. Dimulai dari berupa sampah campuran, kemudian dipilah dari sampah nonorganik yang masih bisa dimanfaatkan dan sampah basah organik yang kemudian dicacah, dikeringkan, dan dipres untuk juga dimanfaatkan. Namun, pada proses pengeringan sampah basah akan menyisakan air lindi. Air lindi yang dihasilkan, ujarnya, diproses dalam tangki untuk dijernihkan dengan sistem anaerobic atau proses penjernihan air tanpa oksigen untuk kemudian bisa dimanfaatkan. "Namun, air lindi tetap bisa menimbulkan bau tidak sedap bagi masyarakat sekitar," katanya sambil menjelaskan bahwa BPPT memang tidak dilibatkan dalam pembangunan TPST Bojong itu. Kalau sisa air lindi kadar airnya kurang dari 20%, ujarnya, tidak akan menyebabkan bau karena pembusukan berhenti. Namun, yang terjadi dalam proses tersebut, sisa sampah yang telah dikeringkan kadar airnya hanya diturunkan dari sebelumnya 70% menjadi 30-40%. Menurut dia, karena TPST Bojong dibangun di lokasi perumahan maka seharusnya menggunakan standar perumahan yang lebih hati-hati dalam hal kondisi yang dapat merugikan masyarakat setempat. "Selain itu kepada masyarakat semuanya harus benar-benar dijelaskan apakah memang aman bagi mereka dan kalau belum aman agar disempurnakan," katanya. Dikatakannya, meski sistem itu telah sukses dilaksanakan di sejumlah negara seperti Spanyol dan Korea, namun negara-negara itu hanya menangani sampah sekitar 100-200 ton per hari. Sedangkan di Bojong, harus mengatasi sampah 1.000 sampai 2.000 ton per hari. ''Sisanya itu mau dikemanakan.'' Henky juga mempertanyakan hasil dari sampah kering yang akan dimanfaatkan sebagai kompos tersebut jika penjualannya tidak lancar, padahal sampah terus berdatangan setiap hari. Sementara itu, Direktur P3TL BPPT Tusy Adibroto mengakui sistem pengelolaan sampah di kota-kota Indonesia belum memenuhi syarat. ''Kebanyakan sampah hanya dibuang dan ditumpuk saja tanpa dikelola. Ini menyebabkan trauma bagi masyarakat karena sampah menyebabkan pencemaran lingkungan dan penyakit.'' Sumber:(Nda/*/J-2M)- Media Indonesia
|