Greenomics Kecam Investasi Kelapa Sawit di Kalimantan PDF Print E-mail

Konversi hutan alam seluas 1,8 juta hektare menjadi areal perkebunan kelapa sawit di kawasan perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur akan memberikan dampak negatif pada stabilitas pertumbuhan ekonomi wilayah. Dampak penurunan ekonomi dalam jangka menengah di Kalimantan Barat diperkirakan akan mencapai 57 persen per tahun, dan sebesar 42 persen di Kalimantan Timur.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi, Rabu (16/11), di Jakarta.
Berdasarkan studi Greenomics, papar Elfian, kegiatan konversi itu akan mengancam daya dukung ekologi seluas 13,6 juta hektare dari rangkaian Daerah Aliran Sungai (DAS) di kedua provinsi tersebut.
Selanjutnya, nilai produk domestik regional bruto (PDRB) kedua provinsi akan menurun secara bertahap. Hal itu diakibatkan menurunnya dukungan jasa ekonomi dan ekologi hutan terhadap pembentukan nilai PDRB di kedua propinsi.
Ia menjelaskan, jika investasi perkebunan sawit di kawasan perbatasan dilakukan dengan konversi hutan, nilai kerugian minimal mencapai antara Rp 47,3 triliun hingga Rp 59,1 triliun per tahun.
“Nilai kerugian itu belum termasuk nilai kerugian efek berganda (multiplier effect),” jelasnya. Elfian menambahkan, selain berdampak pada perekonomian daerah, konversi tersebut akan melenyapkan nilai ekonomi kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) minimal Rp 5,4 triliun per tahun.
Pihaknya menyarankan pemerintah agar rencana investasi perkebunan sawit tersebut tidak dilakukan. Ini karena investasi itu hanya akan menciptakan ekonomi biaya tinggi.(effatha tamburian)

Sumber :www.sinarharapan.co.id